My Latest Photos
No photos uploaded yet.
PLG_KUNENA_COMMUNITY_ACTIVITY_THANKYOU_WALL 28/08/2017

600x400_r_2017-08-16-13-21-tionghoa-indonesia.jpg

Budaya Tionghoa : Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa ini, bukanlah hadiah dari para penjajah. Melainkan hasil dari perjuangan. Menumpahkan darah demi terwujudnya negara bernama Indonesia. Perjuangan anak bangsa, bukan dilakukan segelintir orang, etnis atau agama. Tionghoa juga ikut terlibat di dalamnya.

Banyak tokoh Tionghoa yang mengukir nama sebagai pejuang, pahlawan bahkan pejabat negara. Terlibat merebut kemerdekaan. Menyatukan semua golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dan negara bernama Indonesia.

Perjuangan demi perjuangan, dilakukan etnis Tionghoa bersama etnis lain. Jauh sebelum Indonesia merdeka, Tionghoa terlibat pertempuran dengan penjajah. Misalnya, dalam Geger Pecinan tahun 1740. Tionghoa bersama Jawa bersatu melawan Londo.

Bermula dari pembantaian Tionghoa oleh tentara Hindia Belanda di Batavia, sekarang Jakarta. Korban jiwa diperkirakan mencapai 10.000 orang Tionghoa. Hal ini memicu perlawanan hingga ke daerah lain. Peristiwa kecil juga kerap terjadi antara Tionghoa dan Belanda. Saling berperang.

Perjuangan Tionghoa semakin menjadi, ketika ada gerakan juga dari kelompok lain terhadap Belanda. Begitu juga setelah penjajah berganti ke pihak Jepang. Beberapa tokoh Tionghoa terlibat di dalammnya.

Dari mereka yang berprofesi menjadi tentara, seperti Laksamana Muda John Lie, dokter Oen Boen Ing, sampai raja gula Oei Tjong Hauw. Semuanya berperan sesuai dengan profesi, untuk melawan penjajah.

Laksamana Muda John Lie, dikenal sebagai Hantu Malaka, karena suka melewati selat itu, memasok senjata bagi para pejuang. Namanya cukup terkenal sebagai pasukan yang tak pernah takut. Semua yang dilakukan itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Dokter Oen Boen Ing, juga dikenal sebagai orang yang suka membantu pengobatan bagi para pejuang dan tentara. Membiarkan rumah sakitnya sebagai pusat pengobatan bagi pejuang kemerdekaan.

Oei Tjong Hauw, pengusaha asal Jawa Tengah. Meskipun sebagai pedagang, tapi ikut juga dalam merebut dan merawat kemerdekaan. Bahkan masuk ke dalam BPUPKI tahun 1945. Nama lain, Letkol Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo Kasworo.

Seorang dokter sekaligus tentara yang merawat korban pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur. Nama lain, Oei Hok San, anggota tentara pelajar dari Kediri. Anak dari Oei Djing Swan, juga pejuang.

Yang berjuang dengan melawan propaganda adalah Lie Yun Fong atau Ali Sudjianto. Menjadi wartawan koran Sin Po bersama Adam Malik. Koran ini memang banyak melahirkan pejuang-pejuang kemerdekaan.

Dari wartawan, ada nama Liem Koen Hian, motor penggerak kampanye anti Jepang dan angggota BPUPKI. Ada juga politisi sekaligus aktivis Siauw Giok Tjhan, dikenal dengan semboyan “Lahir di Indonesia, Besar di Indonesia menjadi Putra-Putri Indonesia”, melanjutkan gagasan dari Kwee Hing Tjiat melalui Harian MATAHARI di Semarang dari tahun 1933-1934.

Nama lain, Oei Tjoe Tat, aktivis buruh dari Surakarta. Ia juga terlibat dalam dunia politik saat Belanda dan Jepang berkuasa. Setelah merdeka dia mendapatkan kepercayaan menjadi anggota Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954.

Soekarno juga mengangkat Oei Tjoe Tat menjadi Menteri Negara pada 1963. Menjadi anggota Kabinet Dwikora atau Kabinet 100 Menteri.

Contoh lain, yang terlibat di dalam merebut kemerdekaan adalah Djiaw Kie Siong. Seorang petani di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Rumahnya digunakan sebagai tempat Peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta, oleh kelompok muda yang mendesak segera proklamir kemerdekaan Indonesia. Berikutnya, Leo Wenas atau Liauw Thian Moek, anggota Badan Keamanan Rakyat, Lie Eng Hok, perintis kemerdekaan Indonesia, Oey Tiang Tjoe, dan Oey Tjong Hauw, anggota BPUPKI.

Lalu Oei Hok San, veteran pejuang kemerdekaan, Ong Tjong Bing atau Daya Sabdo Kasworo, tentara pejuang, Sho Bun Seng, Tan Bun Yin, Taufik Halim atau Tan Kho Lim, Tan Ping Djiang, Thung Tjing Ek atau Jakub Thung, pejuang kemerdekaan.

Terakhir Yap Tjwan Bing, anggota BPUPKI dan PPKI. Ada juga dari daerah yaitub Ang Tiauw Bie dari Banten. Pengusaha yang mengikhlaskan kapalnya untuk mengangkut senjata dari Singapura untuk tentara.

Nama-nama di atas adalah bukti sejarah bagaimana jerih payah orang Tionghoa ikut merebut kemerdekaan. Maish banyak juga nama yang belum terungkap, namun punya aksi heroik melawan penjajah. Kini apa yang telah diperbuat itu mulai mendapatkan pengakuan dari negara.

Budaya Tionghoa Lainnya : Sumber

Selengkapnya...

Davy Mariano is friends with razita

razita membuat topik baru ' Budaya Tionghoa : Perajin Tionghoa dan Batik Motif Pancasila' pada forum. 18/08/2017


Budaya Tionghoa Batik bukan sekadar karya dan warisan budaya dunia. Juga menjadi media refleksi tentang kebhinnekaan dan keberagaman di Indonesia. Tak pandang etnis, seperti itulah motivasi dari seorang perajin Tionghoa yang berhasil membuat batik motif Pancasila.

Slamet Hadi Priyanto, 48 tahun, perajin batik, mengatakan, pembuatan batik dengan motif kebangsaan itu dinamakan “Aku Pancasila, Aku Indonesia”.

Jika dilihat secara sekasama, motif yang berbentuk susunan gambar, tumbuhan, dan bangunan itu membentuk tulisan “Aku Pancasila, Aku Indonesia”

Pemilihan membuat kalimat dengan susunan gambar, bukan tulisan itu membuat karakter utama dari batik tulis tak hilang. Menghadirkan karya dari tangan perajin mahir.

Pemilik Galeri Batik Banyumas ini sengaja membuat motif batik tulis dengan rasa nasionalisme. Sekaligus memanfaatkan momentum, perayaan 17 Agustus.

Selain motif batik yang bertulisakan “Aku Pancasila, Aku Indonesia”, juga membuat motif bendera Indonesia. Ada juga perlombaaan khas pada 17 Agustus, seperti panjat pinang, balap karung, lari kelereng, tarik tambang, dan gebuk bantal.

Selain itu, Slamet yang merupakan perajin berdarah Tionghoa ini membuat gambar kegiatan upacara bendera, tarian, sampai gerak jalan. Semua tergambarkan di atas kain.

Di galeri batik itu, ada empat tema besar berkaitan dengan kebangsaan dan momentum kemerdekaan. Jumlahnya mencapai 20 kain batik. Bukan hanya dijadikan sebagai pajangan, tapi dilepas ke pasaran, dengan harga mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 2 juta.

Dalam pembuatan, perajin membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk pembuatan satu batik tulis. Mengeluarkan kreativitas, membentuk karya budaya dengan makna nasionalisme.

Budaya Tionghoa Lainnya : Sumber

Selengkapnya...

600x400_r_2017-08-10-17-23-Lombok-utara-tingkatkan-sdm.jpg

Berita Tionghoa : Tiongkok, khususnya Pemerintah Kota Haikou memberikan beasiswa bagi pelajar di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kesempatan belajar ke negara itu sebagai salah satu upaya tingkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Yang berhak mendapatkan beaasiswa adalah pelajar yang punya prestasi di sekolahnya. Sehingga dengan mudah menuntut ilmu di Negeri Tirai Bambu. Fokus pembelajaran nantinya pada bidang pariwisata, kelautan dan pertanian.

Najmul Akhyar, Bupati Lombok Utara, mengatakan kesempatan itu akan dimanfaatkan untuk menaikkan indeks pembangunan manusia di wilayahnya. Sehingga nanti mampu bersaing, terutama saat proyek global hub beroperasi.

Apalagi, sambungnya, mega proyek Global Hub Kayangan ini membutuhkan 300 ribu tenaga kerja profesional. “Kami harus menyiapkan pekerja yang kompetitif. Pemerintah Haikou akan menerima warga kami untuk belajar di sana,” tuturnya.

Najmul mengakui, pemberian beasiswa untuk menuntut ilmu ke Tiongkok, baru sebatas penandatangan nota kesepahaman atau MoU. Dengan begitu, pengiriman pelajar belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Harus melalui proses yang bersifat teknis. Sehingga akan dilakukan tindak lanjut oleh bagian yang bersangkutan kedua daerah.

Penandatangan kerjasama antara Lombok Utara dan Kota Haikou, tak hanya dalam bidang pendidikan. Sebelumnya telah disepakati kerjasama dalam sektor perdagangan, pariwisata, pertanian, kelautan, dan ilmu pengetahuan.

Berita Tionghoa Lainnya : Sumber

Selengkapnya...

razita membuat topik baru ' Makanan Chinese Food Di Jakarta : Iga Lezat Konro Shanghai' pada forum. 26/07/2017


Makanan Chinese Food di Jakarta kali ini membahas tentang Konro Shanghai, restoran ini khas dengan iga yang lezat dan konsep keluarga. Namum nyaman bagi anak muda yang ingin nongkrong.

Bagi Anda para pencinta kuliner yang berbahan dasar olahan iga atau konro, restoran yang satu ini bisa menjadi tujuan. Namanya Konro Shanghai, cabang pertama di Jakarta, sudaha berdiri pada bulan Mei 2016. Konro Shanghai menawarkan konsep resto untuk keluarga dan memberikan rasa nyaman bagi anak muda yang ingin nongkrong.

Menurut Hilda yang merupakan pemilik Konro Shanghai ini, “Ide awalnya itu orang gemar makan konro, tetapi beberapa teman-teman susah dapat daging babi. Ini merupakan resep warisan keluarga,“.

Pemilik Konro Shanghai ini menjelaskan sembari menyatap sajian iga lezat dengan harga murah dan mendengar alunan musik jaz. Konro Shanghai, sambungnya, lebih menonjolkan citarasa khas Makassar, yang kaya akan rempah-rempah. Disini tidak hanya menyajikan iga babi, tetapi iga sapi juga ada. Konro bakar menjadi makanan andalan, karena paling diminati.

Terdapat juga kopi serta jus markisa khas Sulawesi. Selain itu juga disini tersedia tempat kongko. “Kami menyajikan ice coffee. Biji kopinya itu kami bawa langsung dari Sulawesi. Harapan kami keluarga nyaman dan yang muda bisa asik ngobrol,“ ujar Hilda.

Konsumen disini tidak hanya bisa memilih makanan satuan, karena ada juga menu paketan dengan harga sekitar Rp 45 ribu, yang terdiri dari sop iga babi, nasi dan teh manis. Ada juga paket seharga Rp 50 ribu: iga babi panggang, nasi dan teh manis.

Pimilik restoran ini menyebut secara keseluruhan harga makanan yang ditawarkan cukup terjangkau yakni antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Saya berharap Konro Shanghai menjadi tempat recommend untuk warga Kelapa Gading dan sekitar menikmati iga. Semoga bisa berkompetisi dengan sesama resto penyaji konro,” pungkas Hilda.

Demikian informasi Makanan Chinese Food di Jakarta kali ini tentang Iga Lezat di Konro Shanghai.

Info Makanan Chinese Food di Jakarta yang lain : Sumber

Selengkapnya...

aries apaino is friends with razita

razita membuat topik baru ' Tradisi Cina di Indonesia : Ritual Mencari Feng Shui' pada forum. 24/07/2017


Tradisi Cina di Indonesia tentang ritual mecari feng shui dengan bantuan dari dewa, ritual ini sudah jarang sekali dijalani oleh para Tionghoa di Indonesia.

Ilmu feng shui banyak dipercaya, terutama bagi etnis Tionghoa, sebagai cara mendapatkan keberuntungan dari tempat tinggal dan usaha. Penghitungan feng shui memang berdasarkan logika, tetapi ilmu ini bisa juga dicari dengan meminta bantuan dari dewa.

Feng Shui dengan meminta bantuan dari dewa, sudah jarang sekali orang melakukan tradisi ini. Saat ini kebanyakan orang menggunakan ilmu topografi kuno dari Tiongkok. Bagaimana manusia, surga dan bumi, berdampingan dalam kehidupan. Bisa digunakan untuk membantu perbaiki hidup dengan menerima qi positif.

Feng shui dipercaya dapat memberikan nasib baik dan membawa rezeki. Karena hal tersebutlah mengapa dalam setiap pembangunan rumah atau gedung baru, orang selalu menggunakan feng shui. Sebagai alat untuk menentukan letak dan arah yang terbaik.

Tradisi mencari feng shui dengan meminta bantuan dewa, pernah dilakukan oleh pengurus Klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng, Jambi. Sebelum Kelenteng ini di bangun, ritual memanggil roh shen ming atau dewa dilakukan, belum lama ini.

Dalam proses mencari feng shui dengan bantuan dewa ini tidak semudah menggunakan cara yang biasa. Ritual ini dilakukan seharian penuh, sejak pagi. Ketika melakukan ritual yang pertama, tetapi dewa belum juga datang, karena ada kemungkinan syarat tak terpenuhi.

Kemudian setelah gagal, maka ritual akan diulangi pada siang menjelang sore hari. Sebelum ritual digelar, terlebih dahulu menaruh kin sin atau patung dewa di atas tandu. Ada dua dewa yang diundang yaitu Sun Peng Seng He atau Cie Liong King dan Dewa Un Cu Sam Tai, keduanya diundang ke klenteng untuk membantu memberikan petunjuk feng shui.

Setelah itu dewa akan masuk ke dalam patung, ditandai dengan tandu yang bergerak sendiri. Sayangnya, pada saat ritual ini, roh dewa hanya datang sebentar, lalu pergi, kejadian yang berulang terjadi.

Menurut pengalaman, ritual mencari feng shui dengan meminta bantuan dewa ini dapat dilakukan hingga berulang kali, minimal tiga kali. Maka dilakukan kembali, hingga mendapatkan petunjuk feng shui dari dewa kepada pemimpin ritual.

Demikian informasi Tradisi Cina di Indonesia tentang ritual mencari feng shui, yang belum lama ini dilakukan di Jambi.


Info Tradisi Cina di Indonesia yang lain : Sumber

Selengkapnya...

razita membuat topik baru ' Sejarah Cina di Indonesia : Vihara Mahacetya Dhanagun Bogor' pada forum. 20/07/2017


Vihara Mahacetya Dhanagun merupakan saksi sejarah cina di Indonesia atau keberadaan etnis Tionghoa di Bogor. Vihara ini masih digunakan sebagai pusat ibadah 3 agama.

Vihara ini sering disebut Vihara Dhanagun, selain itu vihara ini merupakan yang tertua di Kota Bogor, Jawa Barat. Berada di tengah pecinan, yaitu di Suryakencana. Tidak hanya merupakan pusat ibadah, tempat ini juga adalah saksi sejarah Cina di Indonesia atau keberadaan etnis Tionghoa.

Ada juga yang menyebut nama tempat ini sebagai Vihara Hok Tek Bio, vihara ini merupakan pusat ibadah dari 3 agama, yaitu Buddha, Konghucu dan Taoisme. Luas bagunan ini sekitar 635 meter persegi. Vihara ini setiap harinya sangat ramai dikunjungi oleh para umat yang ingin sembahyang.

Menurut cerita dari warga yang tinggal di pecinan setempat, usia dari vihara ini sudah sekitar 345 tahun atau berdiri pada tahun 1672. Tetapi usia tersebut tidak ada dasarnya secara imliah, karena etnis Tionghoa yang tinggal di Bogor baru ada setelah tahun 1740.

Berdasarkan pada peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di Batavia, atau yang sekarang dikenal dengan nam Jakarta, pada tahun 1739 sampai 1740. Pada masa itu, Pemerintah Belanda melakukan pembantaian terhadap Tionghoa dan diperkirakan sekitar 10.000 jiwa yang meninggal.

Kemudian etnis Tionghoa yang masih hidup, diberikan kesempatan untuk pindah ke berbagai wilayah, termasuk Bogor dan Tangerang. Ada juga yang ke wilayah Jawa lainnya. Tetapi perpindahan warga Tionghoa ke berbagai wilayah tersebut memiliki syarat, yaitu mereka tidak boleh tinggal bersama warga setempat.

Karena hal tersebut, warga Tionghoa tersebut membentuk kawasan tempat tinggal dan perdagangan di satu tempat yang biasa disebut pecinan. Saat masa perpindahan itu, mereka juga membangun klenteng dan vihara sebagai pusat ibadah warga Tionghoa.

Menurut salah seorang pengurus harian Vihara Dhanaguan, jika berdasarkan peristiwa tersebut. Maka dari itu, kemungkinan besar vihara dibangun 70 tahun setelah Geger Pecinan 1740. Kemungkinan usianya sekarang 207 tahun atau 2 abad. Kehadiran vihara ini untuk memberikan ruang bagi tiga agama, yang mayoritas dipeluk etnis Tionghoa.

Meskipun digunakan sebagai tempat ibadah 3 agama, vihara ini tetap bisa berjalan berdampingan sejak ratusan tahun yang lalu. Tidak ada saling klaim kepemilikan yang sah atas vihara ini, antara pemeluk agama yang satu dengan lain.

Yang pasti, menurut pengurus tempat tersebut, Vihara Dhanagun menjadi sejarah keberadaan dan perkembangan Tionghoa di Kota Bogor. Selain itu juga menjadi saksi bisu bagaimana Tionghoa menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah, dari Zaman Belanda hingga era Orde Baru.

Setelah peristiwa Geger Pecinan, kegiatan Tionghoa di vihara ini mulai berjalan secara normal kembali, hingga Indonesia merdeka. Kemudian, semakin diakui sebagai salah satu ikon di Pecinan Bogor. Tetapi, ketika era kekuasaan Presiden Soeharto, keberadaan vihara mulai ditelan keadaan.

Menurut pengurus vihara tersebut, semua aktivitas di vihara dilakukan dengan “jalan sunyi”. Pemerintah waktu itu sangat tegas melarang semua kegiatan budaya dan ibadah yang berkaitan dengan Tionghoa.

Karena kebijakan dari pemerintah saat itu, menjadikan vihara tak terdengar namanya sama sekali. Bahkan generasi muda tak mengetahui keberadaanya. Vihara ini bagai tenggalam ditelan lautan, karena hanya orang-orang tua saja yang tahu, tidak bisa leluasa mengajak yang muda, karena takut atas larangan tersebut.

Kemudian setelah masa Orde Baru runtuh dan saat masa pemerintahan digantikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada masa Gus Dur, Tionghoa kembali mendapatkan identitasnya. Karena diberikan kembali hak untuk menjalankan keyakinan dan ritual budaya, maka vihara tersebut mulai muncul ke permukaan.

Warga Tionghoa mulai berani secara terang-terangan untuk beribadah dan mengadakan kegiatan leluhur di vihara. Bahkan menjadi pusat perayaan Tahun Baru Imlek setiap tahun. Vihara Dhanagun, selain menjadi saksi bisu keberadaa Tionghoa, juga potret nyata kerukunan umat beragama.

Demikian informasi mengenai sejarah Cina di Indonesia tentang Vihara Mahacetya Dhanagun di Bogor.

Info sejarah cina di Indonesia yang lain : Sumber

Selengkapnya...

razita membuat topik baru ' Perwacy Sarana Pererat Persaudaraan Warga Tionghoa' pada forum. 19/07/2017


Warga Tionghoa di sekitar daerah Yogyakarta memiliki rasa kebersamaan yang sangat tinggi. Karena hal tersebut dan demi memberikan sarana pererat tali persaudaraan, maka didirikanlah Perwacy.

Persatuan Warga Cantonnese Yogyakarta (Perwacy) menggelar malam gala dinner dalam bentuk arisan bersama. Ini merupakan dalam rangka penutupan kegiatan periode ke-3 dan pembukaan periode ke-IV.

Agung Budiono selaku pengurus Perwacy, mengatakan komunitas ini didirikan dengan tujuan menjadi sarana yang dapat mempererat tali persaudaraan. Bukan hanya dengan sesama warga Tionghoa, juga lainnya di Yogyakarta.

Menurut Agung Budiono, ”Arisan yang diadakan sebagai ajang silaturahmi. Juga untuk mendukung biaya operasional organisasi dan bakti sosial,”.

Setiap penyelenggaraan arisan, selalu dihadiri oleh 1.100 anggota. Sama halnya dengan arisan yang dilakukan belum lama ini. Ditambah dengan undangan sekitar 400 orang.

Peserta yang hadir dalam acara ini tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tetapi juga dari Magelang, Muntilan, Purworejo, Kebumen, Klaten dan Jakarta. “Peserta arisan bukan hanya anggota Perwacy saja, tapi juga terbuka untuk umum.”

Pada malam arisan ini, ada juga penyerahan bantuan sosial kepada panti asuhan anak yatim Nur Fadhillah. Selain itu juga ada pemberian bantuan berupa peralatan sekolah dan bantuan uang pembinaan kepada Yayasan Sosial Cacat Mandiri, yang diserahkan oleh Koh Bing yang merupakan anggota senior dari Perwacy.

Pada acara puncak malam tersebut, dimeriahkan oleh penampilan dari Didik Nini Thowok, yang merupakan penari etnis Tionghoa, serta hiburan dari penyanyi Betharia Sonata.

Demikian informasi mengenai Perwacy yang merupakan sarana dalam mempererat persaudaraan Warga Tionghoa.

Info warga Tionghoa yang lainnya : Sumber

Selengkapnya...

razita membuat topik baru ' Tips Feng Shui untuk Simbol dan Ornamen pada Rumah' pada forum. 17/07/2017


Apakah Anda bingung untuk menaruh simbol atau ornamen yang berupa lukisan di rumah? Berikut tips feng shui agar ornamen di rumah Anda mendatangkan keberuntungan.

Jika Anda memiliki berbagai lukisan atau pajangan dengan motif hewan. Berdasarkan sifat alam binatang yang ada pada lukisan ataupun pajangan tersebut.

Sebagai contohnya, bila Anda memiliki lukisan hewan kuda atau binatang lain yang hidup di darat, sebaiknya Anda menaruh lukisan tersebut pada lantai dasar rumah, bila rumah Anda bertingkat.

Tetapi jika lukisan tersebut berupa hewan terbang, contohnya, burung atau naga, maka ada sebaiknya Anda letakan di wilayah rumah yang paling tinggi agar simbolisasi dapat berjalan dengan semestinya. Sehingga tidak tertekan bila ditempatkan di wilayah yang terlalu rendah.

Dengan demikian, niscaya simbolisasi keberuntungan tersebut akan memberi manfaat yang baik. Makna lukisan pasar. Seperti diketahui, pasar adalah tempat berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial, dan infrastruktur, dimana usaha menjual barang, dan jasa untuk orang-orang dengan imbalan uang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Maka orang-orang yang memiliki lukisan pasar percaya bahwa kehidupan perekonomiannya akan semakin meningkat.

Kemudian makna lukisan harimau. Harimau merupakan hewan yang memiliki tenaga besar, insting tajam dan sifat beringas. Tetapi dalam lukisan, harimau melambangkan otoritas.

Makna lukisan dari kuda 8 adalah salah satu simbolisme yang dipakai agar menciptakan suasana yang indah dalam ruangan. Karena berdasarkan Tips feng shui kuno, segala sesuatu yang indah akan menciptakan Sheng Qi atau energi kehidupan.

Lukisan ikan koi dipercaya mempunyai arti pengharapan akan kemakmuran dan keberuntungan. Sebaiknya ditaruh di sudut yang posisinya berseberangan diagonal dari letak pintu masuk.

Contohnya, bila pintu masuk terletak di sisi kiri ruang tamu maka sudut keberuntungan ada di kanan dari bidang dinding yang berseberangan dengan pintu masuk. Bila pintu masuk terletak di sisi kanan maka sudut keberuntungan ada di kiri dari bidang dinding yang berseberangan dengan pintu masuk.

Adapun, bila pintu letaknya di tengah maka sudut keberuntungan ada di bagian kanan dan kiri dari dinding yang berseberangan dengan pintu masuk.

Makna lukisan panen yaitu dapat mengundang kemakmuran lebih lanjut ke tempat kediaman Anda. Posisi terbaik untuk menempatkan lukisan ini adalah pada ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu dan lobby atau ruangan inti lainnya.

Simbolisasi padi yang menguning melambangkan kemakmuran dan kekayaan. Sebaiknya lukisan ini dihadirkan di posisi depan dari rangkaian pegunungan yang menyiratkan dukungan dan perlindungan kokoh atas kekayaan yang diperoleh.

Demikian tips feng shui untuk simbol dan ornamen pada rumah.

Info Tips Feng shui yang lain : Sumber

Selengkapnya...